Ada yang pernah nyobain naik transportasi umum satu ini?? :D
Sebenernya, transportasi ini bukan transportasi baru di bali. transportasi ini sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini. Namun, karena antusiasme warga yang kurang, akhirnya transportasi ini belum banyak dikenal. Sebenarnya, transportasi ini memiliki banyak keunggulan. Selain harganya yang murah, dengan naik ini bisa menghemat tenaga, dan juga bisa mengurangi kemacetan terutama di dalam kota. Yah, walaupun masih ada saja kekurangannya. Tempat parkir yang bahkan tidak ada disekitaran halte, lamanya menunggu armada datang.
Minggu lalu, pada tanggal 7 Desember 2014 saya berencana menjajal transportasi ini. Niat awalnya milih transportasi ini karena pengen tau gimana rasanya, pengen jalan-jalan ke nusa dua, karena lupa jalan akhirnya milih naik transportasi ini deh :D
Rute saya kali ini adalah BTDC. Rute trans sarbagita baru ada 2, GWK-Kota dan BTDC-Batubulan. Karena saya bosan panas-panas berjemur di GWK, maka saya pilih rute BTDC karena sudah lama gak main ke pantainya, :D.
Saya pilih halte terdekat dari rumah, yaitu halte matahari terbit. Saya parkir di KFC dekat halte tersebut sambil menunggu kedatangan teman saya. Setelah datang, kami jalan kaki menuju halte. Gak jauh sih, tapi lumayan capek :D. Sesampainya di halte, ada orang yang juga menunggu di sana. Dengan gaya SKSD, saya pun nanya" ama bapak itu, tujuannya sih biar gak salah rute nantinya :D kan baru pertama kali jalan jalan pake transportasi umum :D. Udah lama ngobrol, ternyata bapak itu adalah sopirnya x_x kirain penumpang -_- okelah gapapa. Bapak itu sudah lumayan lama nunggu di sana, padahal biasanya 10-20 menit nunggu udah sampe. Katanya sih biasalah bali, macetnya udah kayak jakarta aja, jadi gak bisa dipastikan durasi kedatangan bisnya.
Setelah menunggu lumayan lama sampe hampir jamuran, eh gak ding. Akhirnya datang juga :D hoho. Ngambil tempat duduk di belakang, disamperin ama petugasnya, kalau di bis sih kayak kernet gitu yang biasanya ngambilin uang penumpang. Daaan, kami dikasi tiket pelajar, ini berkat muka kita yang masih unyu" :D *eh tapi emang masih mahasiswa sih. -.- Tiket Pelajar Rp. 2.500 , Tiket Umum Rp. 3.000
Ternyata yang naik rame juga, ada juga rombongan keluarga yang tujuannya sama dengan kami, dan senasib dengan kami, yang baru pertama kali naik trans sarbagita. Diperjalanan, banyak yang naik turun, ternyata rutenya ada yang melewati bandara juga.
Sejam berlalu, akhirnya sampailah di bundaran BTDC. Karena ada perbaikan di dekat halte, kami di turunkan di bundaran. Jaraknya lumayan jauh dari pantai -.- Okelaah, itung-itung latihan fisik.
Waktu turun, waktu menunjukkan masuk dzuhur. Karena asing dengan tempat itu, kami bingung nyari tempat shalat, apalagi di tempat pariwisata seperti itu, bakalan susah deh nyari musholla, ini bali bung!! celingukan kanan kiri, rombongan keluarga tadi ternyata sudah hilang -.- tapi untungnya kami masih menemukan salah satu penumpang tadi. Agak takut sih, tapi akhirnya memberanikan diri nanya ama bapak itu di mana tempat shalat. Dan Alhamdulillah, Bapak itu tau dan kami cuma disuruh ikutin dia aja. Saya sih langsung jalan cepet ngikutin bapaknya itu, tapi teman saya malah narik saya, katanya gak boleh deket-deket ama bapaknya. -.- saya pun nurut. Dan, sampailah di sebuah tempat teater gitu, kami sempet kebingungan di bawa ke tempat begituan. Ternyata, di tempat itu ada musholla khususnya. Alhamdulillah bisa shalat :D Makasi bapak yang gak tau namanya siapa, makasi ALLAH {}
Kelar shalat, kami di kasih tau ama bapaknya jalan mau ke pantai, yeay,, tau aja bapaknya kami emang gak tau jalan :D haha. Tanpa basa basi kami langsung ke pantai nusa dua. Wew, tempatnya asli nyaman banget, tenang,, gak kayak pantai" di denpasar yang rame padat merayap x_x. Puas foto-foto, kami bergegas ke Waterblow. Jalan ke sana pun hasil nguping dari orang" sebelah yang juga mau ke sana :D Nyampe disana, kami cukup kecewa karena gak ada ombak sama sekali, katanya sih efek purnama semalem. Gapapa deh, tetep foto-foto dulu disana :D haha
Sekitar jam setengah 4, kita balik ke tempat teater yang tadi karena jaraknya yang lumayan dari pantai, takut kesorean. Abis shalat ashar, minta air dan pamitan :D kami menuju bundaran yang tadi untuk menunggu trans sarbagita. Proses menunggu kali ini lumayan sangat lama, hampir 45 menit kami menunggu disana. Untungnya dateng juga tuh, hampir aja mau jalan ke denpasar *eh, gak jadi kejauhan*.
Daaan, waktu udah naik ama petugasnya ditawarin tiket pelajar atau umum. Kalau ditawarin yah jelas pengen yang murah lah yaa :D haha, dapet deh tiket pelajar.
Sejam kemudian nyampe di halte matahari terbit yang tadi, trus kami jalan menuju KFC. Ambil motor bayar parkir 1.000, kami langsung pulang ke rumah masing-masing karena sudah hampir maghrib.
Well, jalan-jalan kali ini super duper murah :D transportasi hanya 6.000 (PP+parkir di KFC), trus beli cemilan Rp. 32.000. Total biaya yang dikeluarkan Rp. 38.000 lumayan kaan? padahal kalau naik motor bisa boros di bensin saking jauhnya, belum lagi jajannya -.-
Okeh, sekian pengalaman saya dengan trans sarbagita. Semoga kedepannya rute transportasi ini bisa menjangkau tempat-tempat pariwisata yang lain, dan makin banyak yang di benahi,, agar fungsi transportasi ini sebagai pengurai kemacetan dapat berjalan.
Denpasar, 13 Desember 2014
10:04 PM
Sabtu, 13 Desember 2014
Sabtu, 26 April 2014
Jodoh, atau hanya cinta buta??
bingung sebenernya mau nulis apa, tapi nulis aja lah yaa :D
apa yang aku tulis di sini, belum tentu itu kisah pribadi ku, aku bisa saja menulis kisah yang terjadi di sekelilingku. so, apapun yang aku tulis, jangan beranggapan itu tentang aku :$
yang di namakan jodoh itu abstrak, abuabu. layaknya seperti kamu. aku gak tau, apakah kamu jodohku atau bukan, tapi jika bukan jodoh, lalu apa namanya ini?
ketika kita ada masalah, kita menjauh, tibatiba kita di pertemukan kembali, kita dipersatukan kembali. yah, aku gak pernah bisa untuk jauh darimu. sebesar apapun masalah yang kita hadapi, kita pasti akan di persatukan kembali.
tetapi, di sisi lain,, orang di sekeliling kita tak menyetujui hubungan kita. apa yang salah dengan hubungan kita? hanya karena kau pernah menyakitiku, dan aku pernah bersikap tak pantas,, mereka melarang hubungan kita. toh hubungan kita tak mengganggu mereka, dan kita masih berjalan dalam norma dan aturan yang berlaku. dan semua manusia pasti pernah melakukan salah, dan berhak memperbaikinya. bukankah begitu?
apakah ini hanya sekedar cinta buta?? -,- yang terlalu mengandalkan hati ketimbang logika. yang sengaja menutup mata dan telinga akan keadaan yang sebenarnya, hanya untuk kembali bersama. jika ini hanya sekedar cinta buta, lalu apakah maksud semua ini? sebesar apapun masalah kita, sejauh apapun kita berusaha menghindar,, tetap saja pada akhirnya selalu ada jalan untuk mempertemukan, menyatukan kita.
apakah dunia ini terlalu sempit? sehingga kemanapun aku pergi, aku pasti akan bertemu dengannya. masalah ini terlalu rumit bagiku. atau mungkin hanya aku saja yang terlalu memperumit masalah sepele ini? entahlah, hanya ALLAH yang tau apa maksud semua ini.
apa yang aku tulis di sini, belum tentu itu kisah pribadi ku, aku bisa saja menulis kisah yang terjadi di sekelilingku. so, apapun yang aku tulis, jangan beranggapan itu tentang aku :$
yang di namakan jodoh itu abstrak, abuabu. layaknya seperti kamu. aku gak tau, apakah kamu jodohku atau bukan, tapi jika bukan jodoh, lalu apa namanya ini?
ketika kita ada masalah, kita menjauh, tibatiba kita di pertemukan kembali, kita dipersatukan kembali. yah, aku gak pernah bisa untuk jauh darimu. sebesar apapun masalah yang kita hadapi, kita pasti akan di persatukan kembali.
tetapi, di sisi lain,, orang di sekeliling kita tak menyetujui hubungan kita. apa yang salah dengan hubungan kita? hanya karena kau pernah menyakitiku, dan aku pernah bersikap tak pantas,, mereka melarang hubungan kita. toh hubungan kita tak mengganggu mereka, dan kita masih berjalan dalam norma dan aturan yang berlaku. dan semua manusia pasti pernah melakukan salah, dan berhak memperbaikinya. bukankah begitu?
apakah ini hanya sekedar cinta buta?? -,- yang terlalu mengandalkan hati ketimbang logika. yang sengaja menutup mata dan telinga akan keadaan yang sebenarnya, hanya untuk kembali bersama. jika ini hanya sekedar cinta buta, lalu apakah maksud semua ini? sebesar apapun masalah kita, sejauh apapun kita berusaha menghindar,, tetap saja pada akhirnya selalu ada jalan untuk mempertemukan, menyatukan kita.
apakah dunia ini terlalu sempit? sehingga kemanapun aku pergi, aku pasti akan bertemu dengannya. masalah ini terlalu rumit bagiku. atau mungkin hanya aku saja yang terlalu memperumit masalah sepele ini? entahlah, hanya ALLAH yang tau apa maksud semua ini.
Selasa, 16 Juli 2013
tetap untukmu.. :*
*di kelas*
“vandi, coba ke depan, baca puisi ini.”
dengan langkah gontai, gue maju ke
depan, males banget deh, pagi-pagi udah di suruh baca puisi, huft. Dan, gue pun
baca puisi dengan intonasi seadanya, karna emang gak bakat *xixixi*
“nah, itu tadi mengandung majas apa
van??” tiba-tiba b.ani nanya gitu ke gue
“a, a, anu buk, uhm, majas hiperbola.”
Jawab gue seadanya, alhasil gue diketawain ama anak-anak sekelas.
“bukan van, itu majas personifikasi
tau.” Tiba-tiba dari bangku siswa ada yang nyeletuk, dan itu ternyata nabilla,
sohib gue dari kelas 1.
“nah, itu billa bener. Kamu tuh van,
udah kelas 2 masih aja gak bisa bedain majas.” B.ani ceramahin gue, “dan billa, kenapa kamu bantuin vandi?? Kamu
pacaran ama dia??” sambungnya.
“iyaa buk, mereka pacaran.” Dari bangku
belakang ada yang asal nyeletuk sambil cekikikan, dalam hati sih gue seneng
b.ani bilang gue pacaran ama billa :D
“e, enggak kok buk, kami sahabatan aja
kok, gak lebih.” Jawab Billa dengan muka memerah
“bagus lah, jangan pacaran-pacaran dulu,
benerin dulu sekolahnya. Nah kamu van, pelajari lagi tentang majas yaa,
silahkan duduk.”
“makasii buk.”
Billa adalah sohib gue dari kelas 1,
bukan cuma dia aja sih, masih ada Ayu, dan Alif. Kami berempat kalau lagi jalan
bareng, udah kayak double date. Alif ama Ayu, gue ama Billa,, tapi alif dan ayu
hubungannya jelas, mereka pacaran. Sedangkan gue ama billa yang masih abu-abu.
Kenapa gue bisa bilang gitu?? Ya, karena gue ama dia tuh udah deket banget, di
sms panggilannya “bebh/sayang” kalau gue punya pacar, dia keliatan banget
cemburunya, begitupun dengan gue. Pernah, dulu cewek gue cemburu banget ama
billa, katanya gue ama billa tuh mesra banget, lebih dari sekedar sahabat.
Dalam lubuk hati gue, pengen banget jadian ama dia, tapi dia masih punya pacar,
gue gak mau ngerusak hubungan orang.
“kamu ngapain sih? Ngelamun
terus? Catet tuh, ntar dimarah b.ani lho” tiba-tiba billa buyarin lamunan gue,
dia duduk di depan gue. Dan gue baru sadar, kalau sekarang masih jam pelajaran
*xixixi*
“hehehe, gak kok bill, iya-iya aku
nyatet kok.”
*bel pulang*
ini suara yang selalu di tunggu-tunggu siswa,
tapi gue gak. Dengan adanya suara ini, berarti gue gak bisa ketemu ama billa,
walaupun besoknya bisa ketemu lagi *xixixi, lebay banget*
“eh, besok jalan nyook??” Ayu ngajakin
Alif
“duileh, yang diajakin cuma Alif doank?
Gue ama Vandi gak d ajakin nih??” goda billa sambil masukkin buku-bukunya ke
tas
“hehe, jangan ngambek nae,, maksudnya kita berempat, gue ama cowok
gue, lo ama Vandi :D”
“iih, emangnya mereka udah jadian
yank??” ledek alif
“lo berdua bisanya ngeledek aja, awas
kalo gue ama billa jadian beneran. Iyaa gak bil??”
“ih, vandi apa-apa’an siih? Udah ah, gue
mau balik duluan... thaa”
“tuh kan van, anak orang ngambek.”
“gue kan cuma jujur aja.”
“Gitu dagh billa, setiap kali gue
ngomong kayak gitu, pasti dagh ngalihin pembicaraan atau ngambek. Serba salah
gue. Apakah salah, jika seorang sahabat jadian? Alif ama ayu aja jadian, kenapa
gue ama billa gak bisa??” batin gue
“udah deh van, sabar aja yaa. Pulang aja
yuuk.” Ajak Ayu
kita bertiga pun pulang, mereka
boncengan, lha gue sendirian. “kapan yaa, gue bisa kayak mereka??” batin gue
*dirumah*
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam, nape muka lo van??
Kusut banget, kayak kertas yang ada di tong sampah aja :D” goda lila
“siallan lo la, gue bt tau.”
“bt kenapa lagi sih van?? Tante, anaknya
bt nih. Haha”
“siallan banget lo tuh yaa, salah apa coba
gue punya temen kayak lo.” Lila itu temen lama gue, udah kayak saudara gitu,
gue ama dia bertemen udah lama, jadinya yaa akrab kayak gini. Tapi gue ama dia
beda sekolah gitu. Nyokap gue udah kayak nyokapnya dia aja.
“hahaha, udah ah, jangan ngambek.
Sini-sini cerita ama gue.”
“eits, sebelum cerita, Vandi mandi dulu,
terus shalat, habis itu makan. Kalau kalian udah curhat, pasti sampe malem
ntar.” Omel nyokap gue, bener sih kata nyokap, gue tuh ama Lila sering banget
curhat, sampe lupa waktu gitu, gak jarang juga nina nginep di rumah gue, tapi
gak tidur ama gue. Walaupun Lila itu ngesellin, tapi dia selalu bisa buat gue
tenang, gak jarang juga, dia yang bantu cari solusi untuk masalah gue.
“iyaa ma, bentar yaa la,lo jangan pulang
dulu.”
“iyaa bawel, buruan, udah bau banget
nih.”
“bener-bener dagh lo tuh yaa.” Gue pun
melaksanakan omelan nyokap gue.
*malam harinya*
“ma, lila mana??” dari tadi gue
celingukan nyari tuh anak satu gak keliatan
“itu, di teras main catur ama ayahmu.”
Sambil nunjuk 2 orang yang asyik maen catur
“*jitak kepala lila*eh, lo, gue cariin
ke mana-mana gak ada, tau-taunya lagi pacaran ama bokap gue.”
“eh, sakit tau. *ngusap-ngusap
kepalanya.”
“van, jangan gitu ah ama lila, kasian
dianya.”
“:p *julurin lidah* tauk tuh om, om dosa
apa sih? Punya anak nyebellin kayak dia.”
“siallan lo, mulai dagh, mentang-mentang
dibelain ayah, gede kepala lo. Gue mau curhat, sini ke kamar gue.”
“aah, lo mah gak asyik, gue hampir
menang nih lawan bokap lo.”
“udaaah, sini *narik tangan lila* *kayak
nyeret kebo gitu :D*”
“van, kasian lilanya tuh.” “biarin aja
yah.” Gue pun tetep nyeret lila :D, dianya juga pasrah-pasrah aja.
“wagh, parah lo van, ini mah namanya
kdb.” Omel lila sesampainya di kamar gue, sambil ngusap-ngusap tangannya
“kdb?? Apa’an tuh??” tanya gue heran
“idih, katrok lu :p kdb itu, kekerasan
dalam berteman :D”
“aneh lo, eh, gue mau curhat nih.”
“apa’an?? Tentang billa lagi??”
gue sering cerita tentang billa ke lila, jadi dia tau betul kejadian kronologisnya.
gue sering cerita tentang billa ke lila, jadi dia tau betul kejadian kronologisnya.
“iyaa la, L”
“duh, gue kan udah bilang dari zaman gak
enak ama lo, tembak aja dia. Lo jadi cowok penakut amat.”
“bukannya gitu la, sekarang dia udah punya
cowok.”
“eh, sebelum dia punya cowok, gue udah
nyuruh lo nembak dia, tapi lo yang gak mau., banyak banget alesannya. Kalau
perlu, tatap matanya waktu lo nembak dia.”
“gue gak mau nembak dia, karena gue
takut ngerusak persahabatan gue ama dia, dan gue takut ditolak. Kalau dia nolak
gue, pasti hubungan gue ama dia renggang la.”
“eh, gue kasih tau ama lo ya, gak usah
takut dengan apa yang belom terjadi, kalau lo sayang ama dia, lo gak mungkin
peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Soal dia udah punya cowok,
sah-sah aja kok ngungkapin perasaan lo, asalkan lo gak ngerusak hubungan
mereka, dan gak ngehasut dia buat mutusin cowoknya. Jelas??”
gue fikir-fikir, kata-kata dia ada benernya juga. Kalau gue gak coba, gue gak akan tau gimana sebenernya perasaan dia ke gue.
gue fikir-fikir, kata-kata dia ada benernya juga. Kalau gue gak coba, gue gak akan tau gimana sebenernya perasaan dia ke gue.
“woe, ngapain lo bengong? Faham apa yang
gue bilang gak??”
“iya la, gue bakalan coba kok, thanks
banget yaa *cubit idung lila*.”
“makasih sih makasih, tapi gak usah
cubit idung gue, ntar gue tambah mancung, lo iri.” Gerutu lila sambil ngusap-ngusap
idungnya.
“udah-udah, pulang sana, gue mau tidur.”
Usir gue
“siallan banget lo yaa, giliran udah gak
butuh aja, gue diusir. Awas lo. Gue pulang pake motor lo.”
“pulang dagh sana lo.
*hening seketika, merasa ada yang ganjal ama
kata-katanya lila* gawat, dia tadi bilang mau pulang pake motor gue, siallan
tuh anak.” Gue buru-buru ngejer dia, sampe di teras, cuma ada nyokap gue “ma,
lila mana??”
“lho, barusan aja dia pulang, dia tadi
bawa motor kamu, tadi dia ke sini ama temennya. Tadinya mau minta kamu anterin,
tapi katanya kamu udah tidur.”
“yaaah, ma, kok dikasih sih? Besok Vandi
keluar pake apa?” rajuk gue
“kamu di suruh anterin dia gak mau, kan
kasian dia. Ya udah, besok suruh jemput temen kamu aja.”
“uh, nyusahin aja tuh anak satu.” Gerutu
gue sambil menuju kamar.
*esoknya*
“assalamu’alaikum.”
“wa’alaikum sama, eh, nak alif, masuk
dulu, vandinya masih mandi.”
“iyaa tante.”
*beberapa menit kemudian*
“eh, lo udah dateng, gue nebeng lo yaa,
motor gue dibawa lila.”
“yaah, gue kan bareng ayu van, terus
gimana?? Motor lo gak bisa diambil dirumah lila??”
“gak bisa, dia marah ama gue, motor gue
disita ama dia,”
“ah, lo ada-ada aja deh, ya udah, lo ama
billa aja, nebeng ama dia, sekarang langsung ke rumahnya billa, terus gue
jemput ayu.”
“boleh deh. Bentar, gue pamit
dulu.”
“ma, vandi keluar dulu yaa??”
“iyaa, ati-ati van”
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam”
*skip*
*di taman*
“eh, gue ama ayu mau nyari minum dulu,
lo berdua pesen apa’an??”
“apa aja deh, samain aja ama kalian.”
“ok deh, kita berdua cabut duluan.”
Pamit alif
“uhm, cari tempat duduk yuuk, sambil
nungguin mereka.” Tawar gue
“boleh, di sana aja.” Ujarnya sambil
menunjuk tempat yang adem.
Gue
ama billa beriringan jalan menuju tempat duduk itu. Dan, gue berdua duduk di
sana. Dalam fikiran gue, kebayang kata-katanya lila semalem, fikiran dan hati
gue beradu, bingung, haruskah gue
ngelakuin itu semua.
“kamu kenapa sih van? Kok bengong gitu?
Kamu gak kesambet kan??” tanyanya sambil mengerutkan dahi
“hehehee, gak kok bil, bil, aku boleh
ngomong sesuatu??” tanya gue memberanikan diri.
“boleh kok, apa’an?? Gak usah serius
gitu ah.”
“bil, tatap mata aku .” sesaat kami
saling bertatapan. “bil, aku tuh sayang tau ama kamu” lanjut gue, sambil penuh
harap.
“tapi kita tuh sahabatan, dan aku masih
punya pacar.” Billa menundukkan kepalanya
“aku tau itu, aku bakalan nunggu kamu
putus ama pacarmu, dan emangnya salah kalau suka ama sahabat sendiri??” gue
berusaha ngeyakinin dia.
“tapi aku gak mau ngerusak persahabatan
kita, aku takut nanti kalau kita putus, kita malah musuhan.”
“bil, kalau kita udah sayang ama orang,
kita gak akan peduli apa pun yang terjadi selanjutnya. Yang penting jalanin
dulu yang sekarang, soal nanti, kita serahin ama tuhan.”
*hening sesaat*
“kalau boleh jujur yaa, aku juga sayang
ama kamu. tapi tunggu aku putus ama pacarku dulu.”
“aku pasti nunggu kamu kok.”
tiba-tiba alif dan ayu nyamperin kita
berdua, “ganggu banget nih 2 orang, gak pas banget deh.” Batin gue
“gue cariin lo berdua, tau-taunya lagi
asyik pacaran.” Gerutu alif sambil
menyodorkan 2 minuman.
“apa’an sih alif? Gue ama vandi gak
pacaran kok.”
“lo berdua sekarang gak pacaran, tapi
bentar lagi iya.”
“aamiin, tinggal nunggu billa putus aja
ama jodi”
“oh yaa?? Ciyee..” goda ayu. kita
berempat pun ketawa, gue berharap banget, gue bisa beneran jadian ama billa :D
*aamiin*
2 minggu semenjak kejadian itu, hubungan
gue ama billa makin deket aja. Gue dengan sabar nunggu dia putus ama jodi. Gue
hanya nunggu, bukan ngerusak hubungan mereka. Walaupu n gue pengen banget
jadian ama billa, tapi gue gak mau berbuat curang. Gue yakin kok, mereka
bakalan putus, cepet atau lambat. Dan, gue akan tetap nunggu saat-saat itu.
*malam hari*
Lagi mikirin nabilla,tiba-tiba dia sms
gue. “pass banget” batin gue
>>nabilla
aku baru sadar, ternyata aku sayang ama kamu Cuma sebagai sahabat doank, maaf yaa.
>>vandi
lho, kamu kenapa?? L
>>nabilla
aku putus ama jodi, dia selingkuhin aku. Dan aku rasa, perasaanku ke kamu Cuma sebatas sahabat.
aku baru sadar, ternyata aku sayang ama kamu Cuma sebagai sahabat doank, maaf yaa.
>>vandi
lho, kamu kenapa?? L
>>nabilla
aku putus ama jodi, dia selingkuhin aku. Dan aku rasa, perasaanku ke kamu Cuma sebatas sahabat.
Gue gak bales lagi smsnya billa, bikin
nyesek. Selama ini gue sabar nungguin dia, setelah mereka putus, malah ini yang
aku dapet. Nyakitin banget!!sekarang, yang keingetan sekarang Cuma lila, yaa
gue harus tlp dia. Gue cerita semuanya ama lila, dan dia ngasih solusi yang
menurut gue itu gilla, tapi dia nyaranin banget buat gue ngelakuin ini, kalau
gue pengen tau gimana perasaannya billa ke gue.
*3 minggu kemudian*
*di kelas*
“eh van, siapa tuh yang ada di wallpaper
lo?? Pacar baru??” tanya ayu
“bukan yu, gebetan gue. Anak sekolah
sebelah dia, namanya aqila. Cantik gak??”
“aje gile, manis nogh van. Dia melek gak
sih waktu ketemuan ama lo??” goda alif tiba-tiba
“apa’an sih? Rame banget dari tadi??”
billa mulai terusik dengan keributan kita. Gue duduk ama alif di belakangnya
ayu dan billa. Jadi bangku kita depan belakang gitu.
“nih bill, gebetannya vandi.” Ujar alif
dengan nyodorin hp gue ke billa.
“manis van. Pinter kamu nyari cewek.” Ujarnya
singkat.
“iyaa dounk” gue rasa, billa ngomong
kayak tadi itu gak ikhlas, habis ngomong gitu, dia langsung balik badan gitu
aja, gak niat godain gue kayak alif dan ayu. Gue jadi makin heran ama sikapnya
dia.
Setelah kejadian itu, gue pun akhirnya
jadian ama qila. Hubungan gue ama billa mulai renggang semenjak gue jadian ama
qila, gue udah jarang sms dia, dan sekarang, kalau kita jalan, gak Cuma
berempat, tapi berlima ama qila. Gue sengaja ngajakin qila, kalau lagi kumpul
ama anak-anak di luar sekolah. Gue pengen qila lebih deket ama sohib-sohib gue.
*skip*
Hari ini, gue jalan-jalan lagi berlima,
gue, qila, billa, ayu, dan alif. Beberapa menit kemudian, qila ngajakin ayu ke
kamar mandi, dan alif seperti biasa, beliin minum buat kita . Tinggal gue ama
billa berdua, kita pun jalan-jalan beriringan. Karena gue capek jalan, gue
duduk di pinggiran pantai, billa ngikutin gue. Kita duduk dengan posisi yang
sejajar.
“van, kamu tuh akhir-akhir ini berubah.”
Billa memulai percakapan.
“berubah gimana bil??” tanya gue sambil
menghentikan langkah.
“kamu jarang banget ada waktu buat
kita.”
“ha?? Maksud kamu apa sih?? Kalau kalian
ngumpul, aku pasti ikutan kok. Di sekolah maupun di luar sekolah.”
“iyaa, tapi kalau di luar sekolah kamu
selalu ngajak pacar kamu, tumben banget kamu ngajakin pacarmu. Biasanya kita
kan cuma berempat.”
“bil, aku itu cuma mau adil tau. Kan
malah bagus aku ngajakin cewekku, jadi aku bisa kumpul ama sahabat dan pacar
aku sekaligus.”
“tapi aku ngerasa kehilangan kamu tau.”
“aku bingung ama kamu tau, aku dulu
pernah nembak kamu, dan kamu bilang, kamu sayang ama aku hanya sebatas sahabat,
tapi kenapa setiap aku pacaran, kamu cemburu??”
“aku Cuma gak mau kehilangan kamu, kamu
tuh terlalu asyik tau ama pacarmu, sampai lupa ada aku sebagai sahabatmu.”
“bill, aku tuh harus adil tau. Kamu gak
sadar apa selama ini, aku sering putus ama pacarku karna aku terlalu asyik ama
kamu. waktu kamu punya pacar, kamu juga sering ngelupain aku, tapi apa aku
pernah protes ke kamu??”
“aku tuh sayang tau ama kamu.”
“tapi sebatas sahabat kan??”
“aku gak tau.”
“kamu tuh gantungin aku tau, aku capek.
Udah 2 tahun bil kamu gini’in aku terus. Gak kehitung deh udah berapa cewek
sakit hati ngeliat kemesraan kita. Wajar dounk aku bersikap kayak gini, aku mau
bedain mana perasaanku buat pacar dan mana buat sahabat.”
“tapi,,”
“kalau kamu sayang ama aku, kenapa kamu
gak pernah mau terima aku? Kamu tau dari dulu, kalau aku tuh sayang tau ama
kamu.”
“aku cuma gak mau persahabata kita
hancur.”
“kamu bisa liat ayu dan alif kan? Mereka
baik-baik aja tuh. Kamu gak inget kata-kata ku dulu? Kalau sayang ama orang
tuh, gak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang penting jalanin aja
dulu yang sekarang. Kalau sekarang aja gak di jalanin, gimana kita bisa tau apa
yang akan terjadi ke depannya? Masa depan biarlah jadi misteri.”
“maafin aku, selama ini aku berusaha
munafik. Aku sayang ama kamu, tapi aku gak mau ngakuinnya. Aku salah.”
“terus, sekarang mau kamu gimana?? Aku
putusin pacarku sekarang??”
“gak, gak usah van, dia gak salah.
Biarin aku menyayangimu tanpa harus memilikimu, seperti yang kamu lakuin 2
tahun belakangan ini.”
*tiba-tiba dari arah belakang*
“udah bil, lo jadian aja ama dia, gue
ama Vandi tuh cuma temenan biasa kok.” Ujar Qila mengikuti alur pembicaraan
kami.
“maksud lo?? Bukannya selama ini lo
jadian ama vandi??” tanya Billa heran.
“hahaha, itu cuma sandiwara bil, itu
rencana gue, Vandi, dan sahabat-sahabat lo yang lain.”
“hehehe,, maaf yaa billa.” Kata Alif dan
Ayu kompak
“jangan salahin mereka, aq yang nyuruh
mereka, ada temenku yang nyaranin ide gila ini, dan mereka mau bantuin aku. Dan
ternyata, rencana temenku berhasil, kamu emang sayang ama aku.”
“aahhh,, jahat kalian semua. Jadi,
selama ini Ayu dan Alif juga tau kalau ini cuma sandiwara??”
“maaf bill, inget gak, waktu gue
nyodorin hpnya Vandi ke lo? Yang ada fotonya
Qila itu? Itu cuma manes-manesin lo tau, respon lo gitu aja, akhirnya rencana
ini terus berlanjut.” Jelas Alif
“aku juga minta maaf bil, aku cuma
pengen tau aja, gimana perasaanmu yang
sebenarnya, aku capek tau selama 2 tahun ini cuma nebak-nebak gak jelas. Dan sekarang, aku tau gimana
perasaanmu yang sebenarnya. Bill kamu mau gak jadi pacar aku?? Nemenin aku
setiap harinya, dan diantara kita gak perlu lagi ada cemburu-cemburu gak
jelas.” Pinta gue sambil berlutut tepat di hadapannya.
“terima, terima, terima.” Qila, alif,
dan ayu kompak menyoraki kami.
“aku mau jadi pacar kamu, tapi apapun
yang terjadi, tetap bertahan ama aku yaa??”
“iyaa bill, aku janji.” Gue bangkit dan
memeluk dia.
Senin, 20 Mei 2013
cerpen kedua :D (baru belajar nulis, xixixi)
SAAT
BAHAGIA BERSAMAMU
Gue,
Anis, dan Danu berjalan beriringan memasuki kawasan
pantai. Di sini, gue pengen ngungkapin perasaan gue ke Anis. Dia cewek yang selama 2
bulan ini, udah nemenin gue, dan buat gue move on dari mantan gue yang udah
meninggal 3 tahun lalu, yaitu Sisil. Setelah kepergian Sisil, gue gak pernah bisa sayang ama
cewek, entah udah berapa cewek yang gue sakitin karena gue masih belum bisa
lupain Sisil.
Tapi semenjak gue ketemu Anis, semuanya berubah. Dia cewek yang beda, dia bisa buat gue
nyaman dan tenang, dia selalu bisa buat gue ketawa apapun keadaannya. Dia bisa
buat gue ngerasain kehadiran cinta. Gue juga udah nyoba beberapa kali buat
nembak dia, tapi selalu ditolak ama dia. Dan kali ini, gue akan coba lagi.
Tibalah kami di tepi pantai. Gue mengajak Anis untuk sedikit menjauh dari Danu.
“gue sayang ama
lo nis, lo itu beda dari cewek-cewek yang lain. Tiap gue ngobrol, deket ama lo,
gue ngerasain hal yang beda.” Ujar gue mantap sambil menyentuh pundaknya dengan kedua tangan gue.
“beda apanya dit? Gue tau lo!! Lo bisanya cuma
nyakitin perasaan cewek doank. Sekarang lo bilang, lo sayang ama gue, ntar
kalau udah ada cewek yang lebih baik dari gue, pasti lo ninggalin gue.”
“gak nis, gak bakalan. Lo itu udah ngerubah hidup gue.
Gue harus ngelakuin apa lagi, biar lo percaya ama omongan gue? Seumur hidup
gue, baru 2 kali ini gue sayang ama cewek, pertama sisil, dan kedua lo.” Gue berusaha ngeyakinin anis.
“bener apa kata adit nis, setelah sisil meninggal, dia
belum pernah kayak gini ke cewek. Cuma lo yang bisa buat dia kayak gini nis.”
Danu muncul dari belakang
“ah, lo kan sohibnya adit. Lo pasti lah belain dia.” Anis memalingkan badannya, dan
sekarang posisinya membelakangi gue dan Danu. Tersirat keraguan di wajahnya.
“nis, lo tuh juga temen baik gue. Sekarang ikutin aja
deh kata hati lo, jangan sampe nyesel yaa, kalau adit berpaling ke lain hati.
Jangan sia-sia in orang yang sayang ama lo.”
Untuk sejenak keadaan terasa hening, sekilas tampak raut
wajah anis sedang memikirkan sesuatu. Tanpa fikir panjang, gue nyamperin anis,
gue berlutut tepat dihadapannya.
“sekali lagi gue tegesin nis,
gue beneran sayang ama lo. Gak kehitung, udah berapa kali lo nolak gue, dan berapa
kali gue nyatain perasaan gue. Tapi sampe detik ini, gue gak pernah capek buat
ngasih tau lo. GUE SAYANG AMA LO. Gue pengen lo jadi pacar gue, nemenin
hari-hari gue, menambal lubang yang ada di hidup gue, memberikan arah, saat gue
kehilangan arah. ”
Lagi
lagi Anis terdiam. Sementara gue. Astaga, jantung gue beneran berdetak dengan
kuat. Gue benar – benar berharap kalau dia bisa mempercayai apa yang gue
ucapkan kali ini.
“iyaaa,
gue mau jadi pacar lo. Gue sayang ama lo. Buruan berdiri, gak pegel apa lo??”
Astaga, ternyata usaha gue berbuah juga. Setelah sekian
lama, akhirnya anis juga punya perasaan yang sama. Mendengar celetukan anis
tadi, gue langsung berdiri tepat dihadapannya. Memeluknya dengan erat.
“thanks nis, aku gak akan nyia-nyiain kamu.” Bisik gue lirih.
“ janji?? Tanyanya sambil melepaskan pelukanku, dan mengacungkan
jari kelingkingnya dihadapanku.”
“janji” jawab gue mantap, dan kini jari kelingkingku melingkar
di kelingkingnya.
Mulai detik ini juga, gue resmi jadian sama anis. Di saksikan oleh matahari
terbenam.
Hari-hari
gue pun lebih berwarna setelah gue jadian ama anis, dia melukiskan banyak warna
di kanvas hidup gue. Dengan gaya khasnya, dia selalu bisa buat gue ketawa. Dia
selalu tampil apa adanya, natural, dan menarik. Tak terasa, tepat hari ini
hubungan gue tepat 6 bulan. Tiap bulan, gue selalu ngerayainnya bareng danu dan
nayla. Tapi kali ini, gue pengen ngerayainnya hanya berdua ama anis
Telfon
>>adit
happy anniversary 6 month sayang,, ntar jalan yuuk?? Tapi Cuma berdua aja.
>>anis
kok Cuma berdua aja?? Tumben??
>>adit
hehehe,, sekali-sekali sayang. nanti aku tunggu di tempat biasa yaa?? Maaf,aku gak bisa jemput,, harus ketemu dosen dulu.
>>anis
iyaa sayang, gpp kok. Daa sayang.. :*
>>adit
happy anniversary 6 month sayang,, ntar jalan yuuk?? Tapi Cuma berdua aja.
>>anis
kok Cuma berdua aja?? Tumben??
>>adit
hehehe,, sekali-sekali sayang. nanti aku tunggu di tempat biasa yaa?? Maaf,aku gak bisa jemput,, harus ketemu dosen dulu.
>>anis
iyaa sayang, gpp kok. Daa sayang.. :*
*sore
harinya*
ini
tempat favoritnya anis, setiap anniversary, dia pasti minta ngerayainnya di
tempat ini. Katanya, dia suka banget ama sunset di sini, dan tempat ini
bersejarah banget. Yaa, tempat ini adalah, pantai waktu dia nerima cinta gue.
“dooorr”
tiba-tiba anis muncul dari belakang, dan kini ia duduk di sampingku, meletakkan
kepalanya di bahuku.
“aduh
sayang, udah kayak anak kecil aja deh pake ngagetin segala.” Ujar gue sambil
memencet hidungnya.
“
sakit tau yank, habis,, ngelamun aja.” Ucapnya manja sambil memegang
hidungnya.
“hehehe,
maaf sayang, habisnya gemes siih aduh,
rapi bener dandannya?? Mau ketemu siapa sih??” godaku sambil membelai
rambutnya.
“mau
ketemu pacarku.”
“ciiee,
ada yang sayang banget nih ama pacarnya.”
“sebenernya
sih gak sayang-sayang amat. Cuma kasian aja ama dia, udah nembak aku
berkali-kali, tapi ku tolak terus. Udah kayak kehabisan stok cewek aja dia
tuh.”
“stok
cewek aneh kayak kamu tuh cuma ada satu, dan harus dilestarikan.”
“ih,
awas kamu yaa.”
“kabuuurrr
:P” gue lari sambil njulurin lidah, dan dia ngejer gue. Udah kayak anak kecil
gitu, lari-larian di tepian pantai. Saking asyiknya kejar-kejaran, gue pun
nabrak cewek.
*bruukk*
“aduuh,
maaf-maaf gue gak sengaja.” Gue ngebantu dia berdiri, dan saat dia noleh. Ternyata gue kenal ama dia.
“lo
sisil?? Dengan raut muka oon gue melontarkan pertanyaan itu”
“adit??”
dia langsung meluk gue. Sebenernya gue seneng, bisa ketemu sisil, tapi gue
masih gak percaya, kalau yang meluk gue ini tuh sisil. Dia kan udah meninggal.
Gue ngelepas pelukannya.
“lo
gak mungkin sisil, sisil udah meninggal 3 tahun yang lalu.”
“gue
bisa jelasin semuanya dit, gue beneran sisil dit.” Tiba-tiba dia menoleh ke
arah anis, keheranan. “ itu siapa??” lanjutnya sambil menunjuk Anis.
“oh,
ni cewek gue Anis.”
Mereka pun saling berjabat tangan, memperkenalkan nama masing-masing.
“dit,
gue butuh ngomong ama lo sekarang juga.”
“tapi
sil,,”
“please
dit”
“okok,
tapi gue nganterin anis pulang dulu. Yank, maaf banget yaa, acara kita gagal
hari ini, besok aku tebus deh, maaf yaa?? Aku anter kamu pulang sekarang.” gue
ngerasa bersalah ama anis, tapi disisi lain gue penasaran banget ama
penjelasannya sisil
“gak
usah yank,aku mau mampir dulu ke rumahnya danu. Mau ngasih proposalnya. Have
fun yaa.” Anis langsung pergi gitu aja, gue harap dia gak marah deh.
“dit,
kita ke sana aja yuuk” ujarnya menunjuk sebuah kedai. Gue pun nurut aja, dalam hati gue
campur aduk banget. Takut, ngerasa bersalah, seneng, kaget.
*di
sebuah kedai*
gue
duduk di depannya sisil, dan pesanan datang.
“dit, aku minta
maaf banget, ini semua rencana ayahku. Dia pengen aku kuliah di London, tapi aku gak mau,
karena aku gak mau jauh dari kamu. sampe akhirnya aku masih rumah sakit, dan
dokter bilangnya aku kena kanker, diam-diam aku di kasih obat tidur dan di
terbangkan ke London, terus ayah bilangnya ama kamu, kalau aku sudah meninggal.
Waktu di sana, aku baru tau, kalau semuanya bohong, itu rekayasanya ayah sama
dokter-dokter di sana. Ternyata aku cuma sakit biasa. Semuanya di sita ama ayah, aku bingung
mau hubungi kamu ke mana.”
Sejenak gue kehilangan kata-kata, semua ini terasa gak masuk akal di logika
gue.
“dit,
aku harap kamu bisa maafin aku dit, aku mau balik lagi ama kamu, kuliahku udah
kelar di sana, aku cepet-cepetin balik ke sini cuma pengen ketemu ama kamu
aja.” Lanjutnya
“tapi,
paling gak lo bisa kasih kabar sil.” Akhirnya gue berani ngomong
“aku
gak bisa dit, aku gak tau harus hubungi kamu ke mana. Aku bingung.” Perlahan
mulai menetes air matanya. Gue pun pindah di sebelahnya, menghapus air matanya,
dan dia bersandar di bahu gue.
“kamu
mau kan maafin aku? Dan kita bisa pacaran lagi kan kayak dulu??” tanyanya
“aku
maafin kamu, tapi aku sekarang udah punya anis.”
“tapi,
kita kan gak pernah putus, gak pernah terucap kata putus diantara kita dit.”
“iya-iya,
terserah kamu aja.” Sambil membelai rambutnya, entah setan apa yang udah
ngerasukin gue, sampe gue bisa kayak gini, gue udah punya anis, tapi gue gak
berusaha nolak, saat sisil masuk ke kehidupan gue lagi, entah apa yang akan
terjadi selanjutnya.
*di
kamar*
“tuhan,
apa yang harus gue perbuat?? Disaat gue udah nemuin cinta yang baru, kenapa dia
harus muncul lagi di kehidupanku?? Gue bingung tuhan, dulu gue memang sayang
banget ama dia, tapi sekarang udah ada orang lain yang gantiin posisinya, yang
mencintai gue dengan tulus. Gue bingung, harus milih yang mana.” Batin gue, tiba-tiba hp gue berdering, di layar hp,
muncul nama danu calling gue.
>>adit
ada apa lo tlp gue malem-malem??
>>danu
justru gue yang harusnya nanya ama lo, lo apa’in anis?? Cuma demi sisil, lo biarin anis pergi?? Sekarang anniv lo woy, hubungan kalian udah 6 bulan dit.
>>adit
ya ampun, gue lupa nlp anis. *batin gue* sori nu, ini gak gue rencanain, sisil muncul gitu aja, lo tau kan, gue tuh sayang banget ama sisil?
>>danu
gue faham dit, tapi lo sadar dounk, lo tuh udah punya anis, susah payah lo dapetin dia, sekarang lo mau buang dia aja gitu? Percuma dulu lo usaha mati-matian buat dapetin anis, kalau akhirnya lo buang dia gitu aja. Sisil Cuma masa lalu lo dit, lo tuh harus move on. Dia udah ninggalin lo gitu aja dit.
>>adit
dia gak salah nu, bokapnya yang ngerencanain ini semua, dia gak tau apa-apa. Soal anis, gue juga sayang ama dia nu, gue gak mau ngelepasin dia gitu aja, tapi disisi lain, gue masih sayang ama sisil nu, gue bingung
>>danu
terserah lo deh!! Tapi inget janji dan perjuangan lo buat anis!!
ada apa lo tlp gue malem-malem??
>>danu
justru gue yang harusnya nanya ama lo, lo apa’in anis?? Cuma demi sisil, lo biarin anis pergi?? Sekarang anniv lo woy, hubungan kalian udah 6 bulan dit.
>>adit
ya ampun, gue lupa nlp anis. *batin gue* sori nu, ini gak gue rencanain, sisil muncul gitu aja, lo tau kan, gue tuh sayang banget ama sisil?
>>danu
gue faham dit, tapi lo sadar dounk, lo tuh udah punya anis, susah payah lo dapetin dia, sekarang lo mau buang dia aja gitu? Percuma dulu lo usaha mati-matian buat dapetin anis, kalau akhirnya lo buang dia gitu aja. Sisil Cuma masa lalu lo dit, lo tuh harus move on. Dia udah ninggalin lo gitu aja dit.
>>adit
dia gak salah nu, bokapnya yang ngerencanain ini semua, dia gak tau apa-apa. Soal anis, gue juga sayang ama dia nu, gue gak mau ngelepasin dia gitu aja, tapi disisi lain, gue masih sayang ama sisil nu, gue bingung
>>danu
terserah lo deh!! Tapi inget janji dan perjuangan lo buat anis!!
*tut,tut,tut*
danu
matiin tlpnya, gue rasa dia marah besar ama gue. Ada benernya juga sih
kata-katanya dia, tapi sekarang gue gak bisa mikir dengan jernih. Mending gue
nlp anis, buat minta maaf. Tapi ternyata mailbox, gue putusin buat sms Anis, berharap saat hpnya
aktif, dia baca sms gue
>>adit
sayang, aku minta maaf banget yaa, soal yang tadi. Gak bakalan aku ulangi lagi, aku harap kamu gak marah ataupun cemburu, aku ama sisil gak ada apa-apa, aku tadi Cuma minta penjelasan dari dia aja. Aku sayang kamu. Maaf yaa sayang, besok aku tunggu di kantin kampus. :*
sayang, aku minta maaf banget yaa, soal yang tadi. Gak bakalan aku ulangi lagi, aku harap kamu gak marah ataupun cemburu, aku ama sisil gak ada apa-apa, aku tadi Cuma minta penjelasan dari dia aja. Aku sayang kamu. Maaf yaa sayang, besok aku tunggu di kantin kampus. :*
Setelah
gue ketemu sisil, gue jadi sering jalan bareng ama dia, udah kayak pacaran aja.
Hubungan gue ama anis makin renggang, karena gue keasyikan ama sisil. Gue cuma pacaran ama anis selama di kampus
aja. Selebihnya, gue pasti bareng sisil. Gue gak tau, apa status gue ama sisil,
entah dia yang jadi selingkuhan, atau anis,, tapi yang jelas, gue mencintai
keduanya, gue gak bisa milih diantara mereka. Tapi namanya hidup, harus
memilih. Dan sampai suatu saat, gue dihadapkan pada 2 pilihan.
Gue ngajakin sisil ke pantai favoritnya anis. Disini gue ketemu dia, dan
disini pula gue jadian ama anis. Tuba-tiba ada yang nyamperin kita berdua.
“wow, ada pasangan baru niih??” dan ternyata anis yang nyamperin gue ama sisil,spontan
gue langsung kaget.
“sama siapa kamu? Kok gak bilang kalau mau kesini??” jawab gue dengan gugup
“aduh, gak usah gugup gitu dounk, kayak yang ketahuan selingkuh aja. Gue ke
sini tiap bulan, dan selalu tepat ditanggal ini.
serasa disambar petir denger dia ngomong gitu, dan fatalnya lagi, gue lupa
ini hari jadian gue ama anis. Gue bener-bener mati gaya, udah kayak maling
ketahuan nyuri.
“kok dieem??” pancing anis
“maaf sayang.” Hanya kata-kata itu
yang gue bisa ucapin, gue bener-bener bingung harus ngapain.
“gak usah sok-sokan deh lo, lo kira selama ini gue gak tau apa yg lo
lakuin?? Asal lo tau aja yaa, banyak yang lapor ke gue, lo sering jalan ama itu
cewek . Tapi gue gak pernah percaya, dan gue sekarang percaya, lo itu cowok
kayak apa. Kalau lo masih sayang ama dia, bilang dounk, jangan maen belakang
gini. Mendingan lo putusin gue, daripada kayak gini!!” ujarnya dengan nada
emosi, dan sesekali dia menunjuk Sisil.
“yank, aku tuh sayang ama kamu, ini semuanya tuh gak kayak yang kamu
bayangin. Aku ama dia tuh cuma jalan biasa doank, gak lebih.” Gue masih terus
berusaha membela diri, berharap Anis masih mau maafin gue.
“gak lebih katamu?? Masih berani ngelak?? Terus, apa itu tadi, pake pelukan,
rangkul-rangkulan segala?? Udah deh, jujur aja!!! Sekarang lo pilih aja deh,
gue atau dia??” bentaknya.
“gue gak bisa milih!!!!”
“harus!!”
“kalau lo maksa,, maaf, gue milih sisil” gue pun gandeng Sisil untuk cabut
dari situ, entah setan apa yang ngerasukin gue, sampe gue tega gitu ama Anis. Gue
juga gak noleh balik ke Anis.
Setelah kejadian itu, gue resmi jadian ama Sisil. Sekarang udah 2 bulan’an.
Tapi, gue ngerasain ada yang kurang dari hidup gue. Entah itu apa, tapi yang
pasti hidup gue berwarna Tapi, semenjak
kejadian itu pula gue gak pernah berhubungan lagi ama anis. Awalnya gue pengen
banget minta maaf ama dia, tapi akhir-akhir ini dia jarang banget keliatan
dikampus, dan susah banget dihubungi.
*di kampus*
“eh, gue kok gak pernah liat anis lagi ya di kampus?? Terus dia juga susah
banget dihubungi.” tanya gue sambil celingukan, udah sebulan ini dia gak
keliatan.
“knp lo nanyain dia? Masih peduli lo?” jawab danu dengan ketusnya
“duileh, ketus amat, iya-iya gue salah ama dia. Tapi gue heran aja dia gak
pernah keliatan.”
“dia ada tugas jurnalistik ke luar kota, dari bulan lalu. Mungkin minggu
ini udah balik dia.”
“tumben dia mau? Lama amat lagi. Biasanya paling mentok Cuma semingguan.”
“itu dulu, waktu masih pacaran ama lo. Dia kan gak tega ninggalin lo
lama-lama, auk deh kalau lo.”
denger danu ngomong gitu, gue Cuma bisa nelen ludah. Bener sih apa yang
dikatain danu, setiap anis dikasih tugas ke luar kota, pasti gue minta agar dia
gak lama-lama disana. Dan alhasil, paling lama dia di sana, Cuma semingguan
doank. Tiba-tiba keingetan lagi semua hal yang pernah gue lewatin bareng anis.
Lagi enak-enaknya flashback, tiba-tiba ada yang play lagunya ungu feat andien –saat bahagiaku
“wooee, ngapain lo bengong?? Keingetan ama tuh lagu??” buyar lah semua lamunan
gue waktu danu ngagetin.
“iyaa nu, itu lagu bersejarah banget. Gue bisa deket ama anis karena itu
lagu.”
“terus, sekarang lo nyesel gitu? Tau gak, anis lama di luar kota sekalian
biar bisa move on dari lo. Segitu sayangnya dia ama lo tau!!”
“iya, gue tau nu. Gak tau kenapa, akhir-akhir ini gue keingetan terus ama
dia.”
“terus, kalau lo tau, kenapa lo putusin dia Cuma demi cewek itu?? Semua
pengorbanan lo, lo buang gitu aja. Dan kenapa juga lo keingetan anis? Bukannya
lo udah punya sisil?”
“gue cuma happy jadian ama Sisil tuh sebulan doank, selebihnya, ada yang
kurang dari hidup gue. Dan lagi, di tanggal ini biasanya gue ama dia ngerayain
anniv.”
“terus, sekarang lo nyesel gitu? Percuma dit, lo udah berhasil nyakitin dia
tau. Ada cewek yang sayang ama lo, malah lo sia-sia’in gitu aja.”
“ah, auk ah. Gue cabut dulu.”
bener juga kata Danu, gue nih bodo banget. Ngelepasin cewek yang sayang
banget ama gue dan yang gue perjuangin mati-matian. Dalam perjalanan, tanpa
sadar gue ada di daerah pantai favorit anis, padahal kalau dari kampus, rumah
gue ama nih pantai berlawanan arah. Tanpa fikir panjang, gue parkir motor dan
duduk di tempat favorit gue dulu ama Anis. Pantai ini gak banyak berubah, apa
lagi sunsetnya. Gue baru sadar, kalau sunset disini bagus. Pantesan aja Anis
betah disini. Semua memori yang pernah gue lakuin disini, teringat lagi. Dari
gue jalan ama Anis dalam tahap pdkt, gue nembak dia, ngerayain anniv tiap
bulan, bercanda bareng, dan sampai akhirnya gue putusin dia. Gue baru sadar
sekarang, gue bener-bener sayang ama Anis. Perasaan gue ke Sisil, Cuma karena
kangen aja, gak lebih. Biasanya, ditanggal ini, gue selalu kesini bareng anis.
Gue berharap banget sekarang dia ada disini. Dari kejauhan, gue kayak ngeliat
sosok Anis. Bener aja, setelah gue ngedeketin tuh cewek, ternyata dia emang
anis.
“hai, katanya lagi ada tugas di luar kota??” gue duduk disebelahnya, dia
noleh bentar
“iyaa, ini baru pulang.”
“baru pulang sempet-sempetin mampir ke sini??”
“hehehe, gue kangen tempat ini.”
“kangen tempat ini atau kenangan disini??” pancing gue
Sejenak dia diam, seperti mengatur ketenangannya.
“gue kangen ketenangan ditempat ini,
sekaligus pengen ngelupain semua kenangan yang pernah ada disini. Ini tempat
favorit gue, gue pengen nyaman berada disini.”
Gue berusaha menggeser posisinya dengan memegang pundaknya, dan kami saling
bertatapan.
“huft, maafin aku nis, aku tau aku
salah, tapi aku baru sadar, aku Cuma sayangnya sama kamu, perasaanku ke sisil
Cuma gara-gara aku kangen aja ama dia, gak lebih. Please nis, aku mau kita
balikan lagi, akhir-akhir ini aku cariin kamu di kampus, kamu gak ada, aku
hubungi, hp mu gak aktif.” Ujarku penuh harap.
Dia melepas tangan gue di pundaknya, dan merubah posisi duduknya seperti
semula. Sejenak dia memainkan pasir yang ada di depannya.
“aku ngelakuin ini, buat ngindarin
kamu, aku sengaja ambil tugas ini, sekalian liburan di sana, aku pengen lupain
semuanya. Aku gak mau ada kebencian. Aku juga udah maafin kamu kok.” Ujarnya
sambil menatapku dengan senyumnya yang khas.
Astaga, gue kangen banget ama senyum itu.
Gue gak nyerah gitu aja, sekarang gue duduk di denpannya dia. Mencoba
kembali membuat dia menatap mata gue.
“please nis, aku bener-bener sayang ama kamu, aku pengen perbaiki semuanya,
aku pengen nebus semua kesalahanku. Aku minta maaf, aku pengen kita balikan
lagi kayak dulu, aku tau, kamu juga masih sayang ama aku kan??”
“aku emang masih sayang ama kamu dit, tapi rasa percayaku ke kamu udah
ilang, aku gak bisa lagi ngejalanin hubungan kayak dulu, dan rasaku akan hilang
seiring berjalannya waktu. Mendingan kamu jalani aja hubunganmu ama sisil. aku
gak mau sisil ngerasain hal yang sama kayak aku, di tinggalin cowok yang dia
sayang demi cewek lain.”
“nis, kamu bisa tatap mata aku. Semua kata-kataku tadi keluar dari hati
nis, bukan mengada-ngada.” Ujar gue meyakinkannya.
Sejenak, dia menatap mata gue.
“aku gak bisa lagi percaya semua kata-katamu
dit, capek. Maaf.” Dia bangkit dari posisinya, diam sebentar memandangi sunset.
“aku pamit yaa dit.” Lanjutnya. Dan Anis pun pergi gitu aja, tanpa noleh
gue, persis dengan apa yg prnh gue lakuin ke dia waktu itu.
Tiba-tiba hp berdering, gue liat layar hp, sisil sms.
>>sisil
sayang, kerumahku sekarang yaa??
>>adit
sory sil, gak bisa.
>>sisil
please dit, L aku kangen banget. Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus ke rumahku sekarang.
>>sisil
sayang, kerumahku sekarang yaa??
>>adit
sory sil, gak bisa.
>>sisil
please dit, L aku kangen banget. Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus ke rumahku sekarang.
“huft, mungkin ini kesempatan gue, gue harus nyelesai’in ini sekarang
juga.” Batin gue, gue pun cabut ke rumahnya sisil
Di depan rumahnya sisil
“assalamu’alaikum, sil”
“assalamu’alaikum, sil”
“ih, kamu beneran dateng,, masuk aja,”
“aku mau ngomong ama kamu.”
“ih, ngomong aja yank, kenapa jadi serius gini??”
Gue mengatur nafas sejenak “aku mau
kita putus, ternyata selama ini aku gak sayang ama kamu, aku cuma kangen aja
ama kamu.”
“hah?? Jangan ngelindur deh yank, ap’an siih?? Gak ada badai, tiba-tiba
minta hujan. Aku tuh sayang ama kamu, kamu masih marah ama aku, gara-gara aq
ngilang itu??” Sisil tampak keheranan.
“bukan masalah itu sil, tapi ini masalah hati, selama ini aku cuma kangen
aja ama kamu, gak lebih, aku mau kita putus.”
“tapi, aku sayang ama kamu.” perlahan muncul air dari pelupuk matanya.
“udah dounk, jangan nangis.” Gue berusaha menenangkannya dengan memeluknya.
“tapi aku gak mau kita PUTUS!!” menekankan kata-kata terakhirnya sambil
melepaskan pelukannya.
“sorry sil, tapi aku gak bisa pertahanin ini semua. Aku pamit.” Gue
beranjak berdiri.
“tega lo dit, gue bela-belain pulang cepet demi lo tau.”
tanpa menghiraukan kata-katanya, gue buru-buru cabut dari rumahnya. Yaa,,
kisah playboy berakhir di sini, kehilangan orang yang benar-benar disayangi.
Dan akhirnya, hanya penyesalan yang datang, gue ngelakuin ini semua cuma demi ANIS!!
Langganan:
Postingan (Atom)